Visa, Mastercard dan Ant Kembangkan KYA untuk Amankan Transaksi Agen AI
Era agentic commerce tengah berada di ambang pintu perubahan besar yang akan mengubah paradigma belanja daring secara fundamental. Berdasarkan proyeksi pasar, pada tahun 2030, agen kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan mengelola transaksi belanja konsumen global dengan nilai fantastis, yakni antara US$3 triliun hingga US$5 triliun. Dalam skenario ini, konsumen tidak lagi harus terjebak dalam proses manual yang melelahkan—mulai dari mencari produk, membandingkan harga di berbagai situs, memasukkan detail pembayaran, hingga menyelesaikan proses checkout. Semua tahapan tersebut akan didelegasikan kepada agen AI yang bekerja atas nama pengguna. Namun, kemajuan teknologi ini membawa tantangan keamanan yang krusial: bagaimana memastikan bahwa agen tersebut benar-benar tepercaya dan bertindak sesuai dengan batasan kewenangan yang diberikan oleh pemiliknya?
Untuk menjawab tantangan keamanan dan kepercayaan dalam ekosistem baru ini, tiga raksasa industri pembayaran global, yakni Ant International, Mastercard, dan Visa, telah menjalin kolaborasi strategis. Mereka tengah mengembangkan kerangka kerja interoperabilitas yang disebut sebagai Know-Your-Agent (KYA). Inisiatif ini dirancang sebagai fondasi standar industri agar jaringan kartu, dompet digital, platform agen AI, hingga marketplace dapat saling mengenali dan melakukan onboarding agen AI lintas jaringan dengan menggunakan prinsip-prinsip verifikasi yang terpadu.
Rubail Birwadker, Global Head of Growth Products and Strategic Partnerships Visa, menekankan bahwa peran agen AI dalam membantu masyarakat menemukan produk dan berbelanja akan semakin dominan di masa depan. Oleh karena itu, membangun kepercayaan terhadap teknologi ini menjadi prasyarat mutlak bagi keberlanjutan ekosistem agentic commerce. Tanpa adanya kerangka kerja yang solid, risiko penyalahgunaan atau tindakan agen yang tidak sesuai dengan kehendak pengguna dapat menghambat adopsi massal teknologi ini.
Sebelum inisiatif kolaboratif ini muncul, ketiga perusahaan tersebut sebenarnya telah memelopori pengembangan protokol keamanan mandiri. Visa telah memperkenalkan Trusted Agent Protocol, Mastercard memiliki Verifiable Intent, sementara Ant International mengembangkan Agentic Mobile Protocol. Kini, melalui kolaborasi ini, ketiga pihak sepakat untuk menyelaraskan prinsip-prinsip yang mendasari protokol-protokol tersebut ke dalam satu payung KYA yang interoperabel.
Secara teknis, kerangka KYA dibangun di atas tiga pilar utama. Pertama, keterlacakan (traceability). Sistem harus memastikan bahwa setiap agen AI dapat diidentifikasi secara jelas hingga ke operator, pemegang kartu, entitas bisnis, atau organisasi yang memvalidasinya. Kedua, evaluasi perilaku (behavioral evaluation), di mana agen akan dinilai berdasarkan kepatuhan terhadap persyaratan keamanan dan standar perilaku yang telah ditetapkan. Ketiga, pemantauan berkelanjutan (continuous monitoring). Aktivitas agen akan terus diawasi melalui sinyal identitas dan data transaksi secara real-time untuk memberikan penilaian dinamis mengenai tingkat kepercayaan serta profil risiko dari setiap agen AI yang beroperasi.
Pablo Fourez, Chief Digital Officer Mastercard, menjelaskan bahwa interoperabilitas antar-KYA adalah kunci vital agar agentic commerce tidak hanya berjalan di segmen terbatas, tetapi bisa diterapkan secara luas. Dengan kemampuan untuk saling mengenali, maka merchant, platform e-commerce, penyedia dompet digital, dan penerbit kartu akan memiliki bahasa yang konsisten dalam memvalidasi agen AI. Hal ini akan meminimalisir hambatan integrasi dan memastikan bahwa proses verifikasi tidak perlu dilakukan berulang kali secara terpisah di setiap platform yang berbeda.

Lebih jauh, kolaborasi ini diproyeksikan akan mempercepat peluncuran layanan agentic commerce dengan tingkat kompleksitas integrasi yang jauh lebih rendah bagi para pelaku bisnis. Bagi jaringan pembayaran, keberadaan KYA memberikan visibilitas yang lebih komprehensif terhadap tingkat kepercayaan dan risiko yang melekat pada setiap agen AI yang bertransaksi di jaringan mereka.
Proyek pengembangan KYA ini secara khusus akan difasilitasi melalui platform BuildFin.ai yang berpusat di Singapura. Inisiatif ini mengacu pada kerangka Safeguards for Agentic Finance at Runtime (SAFR). BuildFin.ai sendiri merupakan platform yang diprakarsai oleh Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk mempertemukan para pemangku kepentingan, mulai dari lembaga keuangan, penyedia teknologi, hingga komunitas peneliti, dengan tujuan utama mengembangkan solusi AI yang bertanggung jawab dan aman bagi sektor keuangan.
Jiang-Ming Yang, Chief Innovation Officer Ant International, menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, interoperabilitas KYA antara jaringan kartu dan dompet digital merupakan langkah strategis untuk membangun fondasi kepercayaan yang kuat bagi mitra pembayaran, platform, dan pedagang yang bernaung dalam ekosistem mereka. Dengan adanya standardisasi, maka kekhawatiran mengenai keamanan data dan otorisasi pembayaran dapat ditekan seminimal mungkin.
Penerapan KYA juga menjadi jawaban atas kebutuhan akan transparansi dalam ekonomi berbasis AI. Ketika sebuah sistem AI diberikan otonomi untuk melakukan pembayaran atas nama manusia, maka kemampuan untuk memastikan bahwa tindakan tersebut telah disetujui pengguna (user consent) menjadi sangat krusial. Selain itu, kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan transaksi atau kegagalan sistem menjadi hal yang mutlak harus dijawab oleh kerangka KYA.
Ke depan, kolaborasi antara Ant International, Mastercard, dan Visa diharapkan mampu menjadi standar emas dalam ekosistem agentic commerce. Dengan menyatukan kekuatan dari tiga pemain besar, kerangka KYA berpotensi menciptakan ekosistem yang tidak hanya lebih aman, tetapi juga lebih terukur dan efisien. Seiring dengan semakin pintarnya agen AI dalam membantu kehidupan sehari-hari, keamanan yang terintegrasi akan menjadi pembeda utama antara teknologi yang diadopsi secara luas oleh publik dan teknologi yang ditinggalkan karena risiko yang tidak terkelola.
Langkah ini menunjukkan bahwa inovasi di bidang AI tidak bisa berjalan sendiri tanpa dibarengi dengan evolusi pada infrastruktur pembayaran. KYA menjadi bukti bahwa di balik kenyamanan belanja otomatis yang ditawarkan oleh AI, terdapat lapisan pengamanan canggih yang memastikan setiap transaksi dilakukan dengan aman, sah, dan sesuai dengan keinginan pemiliknya. Dengan sinergi yang terus dibangun, masa depan belanja daring dipastikan akan menjadi lebih cerdas, lebih cepat, dan yang terpenting, lebih terpercaya bagi konsumen di seluruh dunia.
