Kembangkan Solusi Lingkungan, Tim SMAN 21 Jakarta Raih Juara National Innovation Challenge
Persoalan lingkungan di sekitar dapat menjadi titik awal bagi generasi muda untuk menciptakan inovasi yang berdampak luas bagi masa depan bumi. Semangat ini tercermin dalam gelaran National Innovation Challenge 2026, sebuah kompetisi bergengsi yang diselenggarakan oleh BASF Indonesia bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI). Acara ini merupakan puncak dari rangkaian program edukatif bertajuk Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition. Dalam kompetisi yang menuntut kreativitas dan kedalaman riset ini, Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta berhasil keluar sebagai juara utama berkat inovasi cemerlang mereka, yaitu O2H: Atmospheric Water Harvesting System.
Keberhasilan Tim Gen V di tingkat nasional ini bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan bukti nyata bahwa siswa tingkat menengah atas mampu mengidentifikasi krisis global dan mengubahnya menjadi solusi yang relevan. Presiden Direktur BASF Indonesia, Dr. Christofer Arisandy, menekankan bahwa transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan tidak bisa hanya bersandar pada kemajuan teknologi di industri besar. Dibutuhkan pula kontribusi aktif dari generasi muda yang memiliki kepekaan terhadap tantangan lingkungan di sekitar mereka. Menurutnya, kemampuan untuk membedah masalah, melihat peluang, dan menciptakan nilai tambah adalah kunci utama dalam melahirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Program Young Voices for a Sustainable Future sendiri telah bergulir sejak April 2026 dan melibatkan total 100 siswa yang terbagi ke dalam 20 tim dari 16 SMA di wilayah Jabodetabek. Selama berbulan-bulan, para peserta dibimbing untuk menggunakan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) guna merancang solusi atas enam isu krusial: Aksi Iklim, Air dan Sanitasi, Konsumsi Bertanggung Jawab, Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Limbah, Energi Berkelanjutan, serta Solusi Digital untuk Keberlanjutan.
Dalam kompetisi ini, para siswa tidak hanya sekadar membuat purwarupa, tetapi juga mengintegrasikan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI), sensor pintar, aplikasi digital, hingga analisis data yang mendalam. Selain itu, banyak peserta yang menunjukkan kreativitas tinggi dengan memanfaatkan material sisa atau limbah untuk diubah menjadi produk bernilai guna tinggi. Penggunaan teknologi dalam pengelolaan air dan efisiensi energi menjadi salah satu tren inovasi yang paling menonjol di kalangan finalis tahun ini.
Inovasi juara dari Tim Gen V, yakni O2H: Atmospheric Water Harvesting System, menjadi sorotan utama karena efektivitas dan relevansinya. Perangkat ini dirancang sebagai alat ringkas yang mampu menangkap kelembapan di udara dan mengubahnya menjadi air bersih melalui serangkaian proses filtrasi serta sterilisasi. Ide ini lahir dari keprihatinan mendalam para siswa terhadap krisis akses air bersih yang kerap melanda berbagai rumah tangga dan komunitas masyarakat, terutama ketika musim kemarau panjang tiba.

Muhammad Rizqi Sugianto, perwakilan dari Tim Gen V, menjelaskan bahwa mereka ingin memberikan solusi yang praktis dan dapat diaplikasikan di daerah yang sulit mendapatkan akses air tanah atau air perpipaan. "Kami menyadari bahwa udara di sekitar kita mengandung kelembapan yang bisa dimanfaatkan. Dengan sistem filtrasi yang tepat, kelembapan tersebut bisa diubah menjadi sumber air bersih yang aman untuk kebutuhan dasar. Inovasi ini adalah bentuk kepedulian kami agar masyarakat tidak lagi kesulitan saat kemarau," ujarnya.
Pentingnya program ini bagi pengembangan karakter siswa juga digarisbawahi oleh Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati. Ia menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh hanya dijejali dengan teori tentang perubahan iklim. Mereka harus diberi ruang untuk bereksperimen, mencari akar masalah, berkolaborasi dengan tim, menerima kritik, dan terus melakukan iterasi atau perbaikan pada solusi yang mereka bangun.
Proses yang dilalui oleh para peserta dalam National Innovation Challenge ini merupakan simulasi nyata dari dunia profesional. Siswa belajar bahwa ilmu yang mereka pelajari di ruang kelas memiliki kegunaan praktis untuk memecahkan masalah nyata di lapangan. Pengalaman ini tidak hanya mengasah kemampuan berpikir kritis dan riset, tetapi juga membangun kepercayaan diri mereka dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Dengan terlibat langsung dalam pengembangan solusi berkelanjutan, para siswa kini memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai tanggung jawab mereka sebagai bagian dari masyarakat global yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Keberhasilan program ini menjadi katalis bagi BASF dan PJI untuk terus mendorong keterlibatan generasi muda. Inovasi, menurut Christofer Arisandy, harus terus dipacu melalui kolaborasi lintas sektoral. "Melalui Young Voices for a Sustainable Future, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak harus lahir dari laboratorium canggih. Inovasi bisa dimulai dari masalah sehari-hari, melalui riset sederhana yang kreatif dan kolaboratif, namun memberikan dampak yang masif dan nyata bagi masyarakat," tutupnya.
Ke depan, diharapkan inovasi seperti O2H dari SMAN 21 Jakarta dapat dikembangkan lebih lanjut dan mendapatkan dukungan untuk diimplementasikan secara luas, sehingga memberikan manfaat konkret bagi masyarakat yang membutuhkan. Ajang ini telah membuktikan bahwa dengan bimbingan yang tepat dan semangat untuk berbagi, generasi muda Indonesia siap menjadi penggerak utama dalam mewujudkan transisi menuju masa depan yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan. Kesuksesan ini hanyalah permulaan bagi perjalanan panjang mereka dalam menciptakan perubahan positif bagi lingkungan hidup dan masyarakat luas.
