Umum

20 Perwira Dimutasi ke Itwasum Polri pada Agustus 2026, Ada AKBP hingga Irjen Pol

20 Perwira Dimutasi ke Itwasum Polri pada Agustus 2026, Ada AKBP hingga Irjen Pol

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kembali melakukan penyegaran organisasi melalui kebijakan mutasi besar-besaran yang menyasar 424 perwira di lingkungan Polri, di mana 20 di antaranya ditempatkan khusus di Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri. Kebijakan ini tertuang dalam tiga Surat Telegram Kapolri sekaligus, yakni Nomor ST/1877/VIII/KEP./2026, ST/1878/VIII/KEP./2026, dan ST/1879/VIII/KEP./2026 yang resmi diterbitkan pada 30 Agustus 2026. Penempatan para perwira ini ke Itwasum bukan sekadar rotasi rutin, melainkan langkah strategis untuk memperkuat fungsi pengawasan internal, audit, dan tata kelola organisasi di tubuh Korps Bhayangkara demi menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks di masa depan.

Dalam daftar mutasi kali ini, terdapat variasi pangkat yang cukup luas, mulai dari Perwira Menengah (Pamen) dengan pangkat AKBP dan Kombes Pol, hingga Perwira Tinggi (Pati) yang menyandang pangkat Brigjen Pol hingga Irjen Pol. Itwasum Polri sendiri merupakan unsur pengawas dan pembantu pimpinan yang memiliki peran vital dalam menjamin akuntabilitas, transparansi, serta profesionalisme seluruh satuan kerja di bawah naungan Polri. Dengan masuknya 20 perwira terpilih ini, diharapkan pengawasan internal akan semakin tajam, terutama dalam melakukan audit operasional maupun audit kinerja di tingkat Polda hingga Mabes Polri.

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Johnny Eddizon Isir, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Menurutnya, proses mutasi dan rotasi merupakan instrumen pembinaan karier yang telah melalui evaluasi mendalam oleh Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Penempatan personel dilakukan berdasarkan prinsip the right man on the right place, di mana kompetensi, rekam jejak, dan kebutuhan organisasi menjadi pertimbangan utama. Isir menyampaikan pernyataannya pada Senin, 21 September 2026, di Jakarta, bahwa setiap personel yang dimutasi telah melalui proses penyaringan ketat agar mampu menjawab tantangan tugas yang dinamis di era transformasi kepolisian saat ini.

Salah satu nama yang menonjol dalam mutasi kali ini adalah Irjen Pol Nurworo Danang. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama TK I Sespim Lemdiklat Polri, sebuah jabatan yang berkaitan erat dengan pengembangan kapasitas SDM. Kini, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Wairwasum Polri. Jabatan Wairwasum merupakan posisi strategis yang membantu Irwasum Polri dalam mengoordinasikan seluruh kebijakan pengawasan. Pengalaman panjang Nurworo Danang di bidang pendidikan dan kepemimpinan diyakini akan memberikan perspektif baru dalam penguatan sistem pengawasan internal Polri yang lebih edukatif dan preventif.

Selain posisi pimpinan tinggi, mutasi ini juga menyasar perwira menengah yang memiliki spesialisasi teknis. Misalnya, Kombes Pol Sudrajad Hariwibowo yang sebelumnya menjabat sebagai Karo SDM Polda Sumsel, kini dipromosikan menjadi Auditor Kepolisian Utama TK II Itwasum Polri dengan penugasan khusus pada SSDM Polri. Penempatan ini menunjukkan sinergi antara fungsi pengawasan dan fungsi sumber daya manusia, yang bertujuan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan pengelolaan personel di daerah telah sesuai dengan aturan perundang-undangan dan etika profesi yang berlaku.

Kemudian, terdapat pula Kombes Pol Nanang Masbudi, yang sebelumnya menduduki jabatan strategis sebagai Irwasda Polda Sumut. Pengalaman Nanang dalam memimpin pengawasan di tingkat Polda sangat relevan dengan jabatan barunya sebagai Auditor Kepolisian Utama TK II Itwasum Polri. Peran auditor di Itwasum sangat krusial dalam melakukan pemeriksaan berkala (wasrik) terhadap satuan kerja di seluruh Indonesia. Dengan kepemimpinan yang sudah teruji di wilayah hukum Sumatera Utara, Nanang diharapkan mampu meningkatkan kualitas audit yang lebih objektif dan solutif bagi satuan-satuan yang diperiksa.

Mutasi ini juga mencakup Brigjen Pol Mohammad Iqbal, yang sebelumnya menjabat sebagai Pamen Itwasum Polri dan kini secara resmi dikukuhkan sebagai Pati Itwasum Polri. Penyesuaian jabatan ini menandakan adanya validasi tugas yang lebih terfokus bagi para perwira tinggi di lingkungan Itwasum. Hal ini selaras dengan arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk terus memperkuat fungsi Itwasum sebagai "mata dan telinga" pimpinan dalam memantau integritas anggota di lapangan, sehingga tingkat kepercayaan publik terhadap Polri dapat terus terjaga dan meningkat.

Secara keseluruhan, masuknya 20 perwira ini ke Itwasum Polri merupakan bagian dari rangkaian besar mutasi 424 personel. Mengapa angka mutasi kali ini cukup besar? Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan untuk penyegaran di berbagai sektor, termasuk pengisian jabatan-jabatan yang kosong akibat pensiun atau promosi ke lembaga negara lainnya. Itwasum Polri, sebagai salah satu lini pertahanan terakhir dalam menjaga marwah institusi, mendapatkan perhatian lebih dalam penempatan personel-personel terbaik yang memiliki integritas tinggi dan pemahaman mendalam mengenai administrasi kepolisian.

Selain nama-nama yang disebutkan di atas, terdapat belasan perwira lainnya yang masuk dalam gerbong mutasi ke Itwasum. Meskipun detail daftar lengkapnya mencakup berbagai jenjang kepangkatan, fokus utamanya tetap pada penguatan fungsi audit internal. Di era digital saat ini, pengawasan tidak hanya dilakukan secara manual, tetapi juga melalui sistem berbasis data. Oleh karena itu, para perwira yang dimutasi ke Itwasum dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi teknologi agar proses audit dapat dilakukan secara efisien, transparan, dan real-time.

Dinamika mutasi yang terjadi pada akhir Agustus 2026 ini juga dipandang sebagai upaya Polri untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja tiap-tiap Polda. Dengan menempatkan perwira-perwira berpengalaman dari berbagai Polda ke Itwasum, diharapkan terjadi pertukaran pengalaman (knowledge sharing) antar wilayah. Misalnya, perwira yang pernah bertugas di Polda besar dengan tantangan kriminalitas tinggi akan membawa pendekatan berbeda dibandingkan dengan mereka yang lama bertugas di bagian staf atau pendidikan. Kombinasi latar belakang ini akan membuat tim auditor Itwasum lebih kaya akan sudut pandang dalam memecahkan masalah.

Lebih jauh lagi, kebijakan mutasi ini mencerminkan komitmen Kapolri dalam mewujudkan program Polri yang Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan). Pengawasan internal yang kuat melalui Itwasum merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan transparansi. Ketika proses audit berjalan dengan baik, maka penyimpangan-penyimpangan sekecil apa pun dapat dideteksi lebih dini, sehingga langkah korektif bisa segera diambil sebelum masalah berkembang menjadi isu publik yang merugikan nama baik institusi.

Penting untuk dicatat bahwa proses mutasi di Polri tidak pernah lepas dari tantangan. Perpindahan tugas bagi seorang perwira seringkali diikuti dengan penyesuaian keluarga dan lingkungan kerja yang baru. Namun, bagi perwira yang telah mencapai jenjang pamen maupun pati, mutasi adalah konsekuensi dari sumpah jabatan untuk siap ditempatkan di mana pun demi kepentingan organisasi. Ke-20 perwira yang dimutasi ke Itwasum ini dipastikan telah melalui proses fit and proper test yang memastikan mereka siap secara mental dan kapabilitas untuk menjalankan tugas pengawasan yang berat.

Selain daftar yang disebutkan, nama-nama lain yang masuk dalam gerbong ini mencakup berbagai divisi pendukung. Kehadiran perwira dengan pangkat Kombes Pol hingga Irjen Pol di Itwasum memberikan struktur organisasi yang lebih solid. Dengan tingkatan pangkat yang beragam, Itwasum mampu membagi tugas pengawasan secara hierarkis, di mana perwira tinggi fokus pada kebijakan strategis dan pengawasan di level Mabes/Polda besar, sementara perwira menengah fokus pada audit teknis dan verifikasi lapangan.

Langkah strategis Jenderal Listyo Sigit Prabowo ini juga mendapat sorotan positif dari pengamat kepolisian. Banyak pihak menilai bahwa penguatan Itwasum adalah langkah "bersih-bersih" yang konsisten. Dengan menempatkan personel-personel yang memiliki rekam jejak bersih, diharapkan pengawasan internal tidak lagi menjadi formalitas, melainkan menjadi instrumen perbaikan yang nyata. Kepercayaan publik yang saat ini terus diupayakan untuk ditingkatkan sangat bergantung pada seberapa efektif Polri mampu mengawasi dirinya sendiri.

Sebagai penutup dari rangkaian mutasi ini, Polri menekankan bahwa tidak ada jabatan yang bersifat abadi. Rotasi adalah napas organisasi yang memastikan aliran kaderisasi tetap berjalan. Bagi 20 perwira yang kini menempati pos baru di Itwasum Polri, tantangan ke depan adalah bagaimana mengintegrasikan pengalaman lapangan mereka ke dalam sistem pengawasan yang ada. Publik tentu berharap, dengan formasi baru ini, Polri dapat lebih akuntabel, profesional, dan semakin dicintai oleh masyarakat di seluruh pelosok tanah air. Perubahan ini bukan sekadar pergantian kursi, melainkan simbol komitmen Polri untuk terus bertransformasi menuju standar pelayanan yang lebih baik dan lebih transparan di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *