Didukung DIM dan INA, Chandra Asri Kembangkan Fasilitas CA-EDC
PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) resmi menuntaskan transaksi investasi strategis bersama Danantara Investment Management (DIM) dan Indonesia Investment Authority (INA) untuk mempercepat pembangunan fasilitas manufaktur Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC). Kolaborasi ini menjadi momentum krusial dalam peta jalan industrialisasi Indonesia, di mana perusahaan petrokimia raksasa ini menggandeng lembaga pengelola investasi negara untuk memperkuat kemandirian sektor kimia nasional. Proyek ambisius ini dirancang sebagai pilar baru dalam ekosistem manufaktur Indonesia yang diharapkan mampu mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir dengan standar efisiensi global.
Sebagai penggerak utama proyek, Chandra Asri Group merancang fasilitas ini dengan skala produksi yang sangat signifikan, yakni sekitar 400 kilotonnes per annum (KTA) untuk soda kaustik dan 500 KTA untuk ethylene dichloride (EDC). Kedua bahan kimia ini merupakan komponen esensial yang selama ini menjadi tulang punggung bagi berbagai sektor manufaktur di Indonesia. Soda kaustik, misalnya, memegang peranan vital dalam pemrosesan industri bauksit dan alumina, yang saat ini menjadi fokus utama kebijakan hilirisasi pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah komoditas tambang nasional. Dengan tersedianya pasokan domestik yang stabil, ketergantungan terhadap bahan kimia impor diharapkan dapat ditekan secara drastis, sehingga mampu menghemat devisa negara dalam jumlah yang besar.
Erwin Ciputra, Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, menegaskan bahwa penuntasan kemitraan investasi ini bukan sekadar urusan pendanaan, melainkan tonggak sejarah bagi keberlanjutan industri kimia Indonesia. Menurutnya, sinergi antara kemampuan modal jangka panjang dari DIM dan INA dengan keahlian operasional Chandra Asri menciptakan fondasi yang sangat kuat untuk menghadapi tantangan pasar global yang volatil. "Melalui sinergi ini, proyek CA-EDC diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pasokan bahan kimia strategis, tetapi juga secara aktif mendukung agenda hilirisasi nasional yang dicanangkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan mandiri," ujar Erwin pada Selasa (20/10/2026).
Hingga September 2026, progres konstruksi fasilitas CA-EDC ini telah menyentuh angka 80%. Angka ini mencerminkan kecepatan dan ketepatan manajemen proyek dalam menghadapi berbagai kendala teknis di lapangan. Saat ini, fokus pembangunan telah beralih pada tahap krusial, yaitu pemasangan peralatan utama serta penyelesaian infrastruktur pendukung yang kompleks. Fasilitas ini mencakup pembangunan dermaga khusus, trestle, serta sistem penyimpanan yang dirancang untuk mendukung operasional logistik berskala besar. Berdasarkan timeline yang telah ditetapkan, pabrik ini berada dalam jalur yang tepat untuk memulai operasi komersial penuh pada tahun 2027.
Dampak ekonomi dari pembangunan pabrik ini sangat luas. Selama masa konstruksi, proyek ini telah menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja yang sebagian besar merupakan talenta lokal. Ketika memasuki tahap operasional penuh nantinya, fasilitas ini akan membuka sekitar 250 posisi kerja permanen yang membutuhkan keahlian teknis tinggi. Hal ini tidak hanya mengurangi angka pengangguran, tetapi juga berperan dalam transfer pengetahuan dan teknologi bagi sumber daya manusia Indonesia di bidang industri petrokimia yang kompleks dan modern.

Kemitraan strategis ini memadukan keunggulan operasional Chandra Asri yang telah berpengalaman puluhan tahun dengan kapasitas investasi jangka panjang yang dimiliki oleh DIM dan INA. Pandu Sjahrir, selaku Chief Executive Officer DIM, menyatakan bahwa keterlibatan pihaknya dalam proyek ini didasari oleh analisis rasional komersial yang sangat kuat. Permintaan domestik terhadap soda kaustik dan EDC terus menunjukkan tren kenaikan yang konsisten seiring dengan bertumbuhnya industri berbasis mineral di tanah air. Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, menambahkan bahwa proyek ini selaras dengan mandat INA untuk berinvestasi pada aset-aset yang memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi Indonesia, sekaligus memberikan pengembalian investasi yang kompetitif bagi mitra strategis mereka.
Integrasi fasilitas manufaktur ini juga menjadi langkah strategis bagi Chandra Asri untuk memperkokoh posisinya di pasar regional. Dengan memiliki fasilitas produksi di dalam negeri, perusahaan mampu memitigasi risiko disrupsi rantai pasok global yang sering kali menyebabkan fluktuasi harga bahan baku bagi industri hilir di Indonesia. Kehadiran pabrik CA-EDC akan memberikan kepastian harga dan ketersediaan pasokan bagi pelaku industri manufaktur, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar internasional.
Lebih jauh lagi, pengembangan proyek ini merupakan bagian dari visi besar Chandra Asri Group untuk menjadi mitra pertumbuhan utama dalam membangun fondasi industri kimia yang mandiri, terintegrasi, dan ramah lingkungan. Perusahaan terus berkomitmen untuk mengadopsi standar operasional terbaik dalam aspek keamanan dan keberlanjutan lingkungan pada fasilitas CA-EDC ini. Penggunaan teknologi terbaru diharapkan dapat menekan jejak karbon dan memaksimalkan efisiensi energi selama proses produksi berlangsung.
Keberhasilan kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga investasi negara ini memberikan sinyal positif bagi investor global bahwa iklim investasi di Indonesia semakin matang dan prospektif. Sinergi ini membuktikan bahwa proyek-proyek berskala besar di Indonesia dapat berjalan dengan efisien melalui tata kelola yang transparan dan kolaborasi yang solid antar stakeholder. Dengan beroperasinya fasilitas CA-EDC pada 2027 nanti, Indonesia diprediksi akan memiliki keunggulan kompetitif baru dalam rantai pasok kimia global, yang akan memperkuat posisi negara sebagai pemain kunci dalam peta industri manufaktur dunia di masa depan.
Secara keseluruhan, proyek ini bukan hanya tentang pembangunan pabrik fisik, melainkan tentang membangun kemandirian ekonomi. Dengan berkurangnya ketergantungan pada impor bahan kimia, Indonesia akan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik dalam menghadapi guncangan pasar internasional. Chandra Asri Group, dengan dukungan penuh dari DIM dan INA, telah menunjukkan arah yang tepat bagi transformasi industri nasional yang lebih modern, efisien, dan berorientasi pada masa depan. Langkah ini diharapkan menjadi katalis bagi investasi-investasi strategis lainnya yang akan terus mendorong Indonesia menuju status negara industri maju dalam beberapa dekade mendatang. Kesuksesan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara modal, keahlian teknis, dan kebijakan hilirisasi yang tepat akan selalu membawa dampak positif bagi kemajuan bangsa.
